Latar belakang Gordon berakar pada sejarah keluarga Comstock; keluarga miskin dan membosankan—serta kumuh, susah, dan kacau. Gordon menilai Comstock hanyalah keluarga yang ditandai kegagalan yang amat menyedihkan. Kehidupan makmur leluhur Comstock di era Victoria terdengar seperti dongeng. Gordon mengkritisi keluarga Comstock sebagai keluarga yang benar-benar tidak memiliki daya hidup. Bagi Gordon, mereka semua ternyata jenis orang yang lesu, tidak punya keberanian, dan tidak sukses.
Mustahil membayangkan salah satu dari mereka membuat prestasi apa pun di dunia atau menciptakan apa pun, atau menghancurkan apa pun, atau menjadi bahagia, atau sangat tidak bahagia, atau sepenuhnya hidup, atau bahkan memperolah penghasilan yang layak. Mereka hanya hanyut dalam suasana kegagalan setengah sopan. Mereka adalah salah satu keluarga yang menyebabkan depresi, begitu umum di kalangan kelas menengah-menengah, di mana tidak pernah terjadi apa-apa. (hlm. 45)
Selama menyelami masa kecil dan pendidikan Gordon, Orwell menggambarkan bagaimana keluarga Comstock yang miskin dan penuh kesombongan membentuk pandangan Gordon terhadap dunianya. Gordon dikirim ke sekolah miskin yang sok berkelas, sementara Julia—yang lima tahun lebih tua—nyaris tidak mengenyam pendidikan sama sekali.
Gordon adalah "anak laki-laki" dan Julia adalah "anak perempuan" dan tampaknya wajar bagi semua orang bahwa "anak perempuan" harus dikorbankan untuk "anak laki-laki". Terlebih lagi, sudah diputuskan sejak awal dalam keluarga bahwa Gordon "pintar". (hlm. 48)
Bagi Gordon, mengenyam pendidikan di sekolah tersebut merupakan sebuah neraka. Ia segera mengalami penghinaan dari teman-teman sekelas yang lebih kaya setelah mereka mengetahui kemiskinannya. Seperti yang dinarasikan oleh Orwell, "Bahkan dua puluh tahun kemudian, kenangan akan sekolah itu masih membuat Gordon bergidik. Efek pertama dari semua ini adalah memberinya rasa hormat pada uang."
Mungkin kekejaman terbesar yang dapat ditimbulkan kepada seorang anak adalah dengan mengirimkannya ke sekolah di antara anak-anak yang lebih kaya daripada dirinya. Seorang anak yang sadar akan kemiskinannya akan mengalami semacam penderitaan yang angkuh yang hampir tidak bisa dibayangkan oleh orang dewasa. (hlm. 48)
Segala pengalaman serta pengamatan mendalam yang dipelajari Gordon selama di sekolah telah menumbuhkan keinginannya akan kekayaan sekaligus kebencian terhadapnya. Opini revolusioner yang menjangkiti Inggris pada saat itu berhasil memicu semangat pemberontakannya, dan ia mulai memandang kapitalisme seperti bentuk dogma agama, yang mengangkat uang menjadi prinsip Ilahi.
Di masa ini pula Gordon menemukan The Ragged Trousered Philanthropist dan membaca di dalamnya kisah tentang tukang kayu kelaparan yang menggadaikan segala miliknya, kecuali aspidistra.
Aspidistra menjadi semacam simbol bagi Gordon setelah itu. Aspidistra, bunga Inggris! Seharusnya tanaman itu ada di lambang negara kita, bukan singa dan unicorn. Tidak akan ada revolusi di Inggris selama masih ada aspidistra di jendela. (hlm. 51)
Saat Gordon berusia 17 tahun, ayahnya meninggal dunia. Di pikiran Gordon saat itu, situasi ideal yang seharusnya dilakukan keluarganya adalah mengeluarkan Gordon dari sekolah, mencarikannya pekerjaan, dan membiarkan Julia memiliki dua ratus pound untuk mendirikan kedai teh sendiri. Alih-alih demikian, baik Julia maupun ibunya tidak mau Gordon meningggalkan sekolah sebelum usia resmi 18 tahun. Namun, Gordon membiarkan mereka menggunakan dua ratus pound tersebut, atau lebih dari setengahnya, supaya Gordon menyelesaikan pendidikannya. Gordon telah menyatakan perang terhadap uang, tetapi itu tidak mencegahnya untuk menjadi sangat egois.
Tentu saja dia takut hal ini akan berlaku. Anak laki-laki mana yang tidak takut? Menekan pena di kantor yang kotor—ya Tuhan! (hlm. 53)
Setelah Gordon menyelesaikan pendidikan, ia ditawarkan pekerjaan bagus di departemen akuntansi sebuah perusahaan melalui koneksi seorang paman. Hanya saja jiwa Gordon memberontak dan menolak untuk mencoba pekerjaan tersebut. Lalu kesehatan ibunya semakin menurun dan menjadikan Gordon terpaksa mengambil pekerjaan tersebut. Kinerja Gordon tidak benar-benar buruk dan bisa dikatakan sepadan dengan upah yang diterima. Penghinaan total yang ditujukan untuk pekerjaannya justru membuat Gordon bisa bertahan dengan kehidupan kantor yang baginya tidak berarti karena ia tidak pernah menganggap itu sebagai pekerjaan permanen. Gordon keluar dari pekerjaannya tepat empat bulan setelah ibunya meninggal, ketika Gordon berusia 24 tahun. Tentu saja ada pertengkaran di keluarga Comstock yang tersisa; tidak ada yang bisa memahami alasan Gordon mengambil keputusan seperti itu.
"Apa yang akan kau jalani? Apa yang akan kau lakukan?" adalah pertanyaan yang diajukan oleh keluarga Comstock dan Gordon menolak untuk memikirkannya secara serius. Di dalam keyakinannya, Gordon masih memendam gagasan bahwa dia bisa mencari nafkah dengan menulis. Pada saat ini dia sudah mengenal Ravelston, yang membantu menerbitkan puisi-puisinya, serta berhasil membuat Gordon sesekali mengulas buku. Tetap saja, bukan keinginan menulis yang menjadi motif Gordon sebenarnya, melainkan keluar dari dunia uang—dan ia gagal.
Dia memiliki perasaan bahwa jika kau benar-benar membenci uang, kau dapat terus hidup di udara. Dia lupa bahwa burung-burung di udara tidak membayar sewa kamar. Penyair yang kelaparan di loteng—tetapi entah bagaimana, baginya kelaparan tidak membuat tidak nyaman—itu adalah visinya tentang dirinya sendiri. (hlm. 58-59)
Efek pertama dari kemiskinan adalah membunuh pikiran. Dia memahami, seolah-olah itu penemuan baru, bahwa kau tidak bisa melarikan diri dari uang dengan tidak memiliki uang. Sebaliknya, kau budak uang yang putus asa sampai kau memiliki cukup uang untuk hidup—sebuah "kompetensi", seperti ungkapan kelas menengah yang kejam. (hlm. 59)
Selama berbulan-bulan kemudian, Gordon menggantungkan hidup pada Julia hingga sen terakhir dari tabungannya yang tak seberapa itu habis. Gordon merasa itu menjijikkan. Dia telah meninggalkan ambisi, berperang melawan uang, dan semua itu hanya membuat dia merepotkan saudara perempuannya. Ironisnya, Julia lebih merasa sedih karena kegagalan Gordon daripada akibat tabungannya yang hilang. Julia memiliki harapan besar kepada Gordon dan menganggap hanya Gordon lah satu-satunya di keluarga Comstock yang memiliki keinginan untuk berhasil, serta percaya suatu hari Gordon akan mengembalikan kemakmuran keluarga.
Setelah berjuang mencari pekerjaan, Gordon mendapatkan posisi di departemen akuntansi perusahaan periklanan, dan di situlah Gordon pertama kali berkenalan dengan Rosemary—seorang gadis yang terasa jauh, mungil, misterius, dengan gerakan cepat, sangat menarik tetapi agak menakutkan. Di tempat yang sama, Gordon mempelajari kemunafikan serta kenaifan orang-orang di perusahaan tersebut terhadap pemujaan buta ke dewa uang. Seperti di pekerjaan sebelumnya, dia melakukan pekerjaan dengan baik dan rekan-rekan kerja memandang rendah dirinya. Tidak ada yang berubah dalam pikiran dan batin Gordon; dia masih membenci dan menolak kode uang—serta masih berencana untuk melarikan diri. Sementara di sisi lain, ada seorang direktur pelaksana yang menyadari potensi Gordon dan mempromosikan dirinya untuk menjadi sekretaris bagi kepala copywriter di perusahaan mereka. Hampir sejak awal Gordon menunjukkan bakat luar biasa untuk melakukan copywriting iklan. Dia bisa membuat iklan seolah-olah dia dilahirkan untuk itu.
Frasa jernih yang melekat dalam ingatan, paragraf ringkas dan rapi yang mengemas dunia kebohongan dalam seratus kata—kebohongan itu seolah-olah datang kepadanya hampir tanpa dicari. Dia selalu memiliki bakat untuk kata-kata, tetapi ini adalah kali pertama dia berhasil menggunakannya. (hlm. 64)
Gordon menyaksikan perkembangannya dengan terkejut, lalu geli, dan akhirnya dengan semacam kengerian. Batinnya menjerit, "Inilah yang dia datangi! Menulis kebohongan untuk menggelitik uang dari orang bodoh!". Semakin gajinya dinaikkan, semakin Gordon ketakutan; uang telah menjeratnya dan sedikit lagi akan membuatnya terjebak seumur hidup. Pilihan Gordon saat itu adalah kembali melarikan diri dan Ravelston—yang sangat memahami Gordon, membantunya mendapatkan pekerjaan di toko buku. Untuk beberapa saat—sangat sebentar—dia memiliki ilusi bahwa dia benar-benar berhasil keluar dari dunia uang. Karir Gordon sebagai penyair gagal dimulai di saat bersamaan. Buku puisinya, Mice, akan dicetak oleh penerbit ketujuh yang dikirimi naskah. Gordon tidak tahu bahwa di balik penerbitan buku puisinya ada campur tangan Ravelston yang merupakan teman pribadi si pemilik penerbitan.
Di usia 27 tahun, Gordon meratapi pendapatannya yang hanya dua pound seminggu dalam pekerjaan orang bodoh dan berjuang dengan sebuah buku gagal yang tidak pernah berkembang lebih jauh—sebagai satu-satunya objek yang dapat membuktikan keberadaannya; meskipun ia berhasil masuk ke dalam dunia yang pernah dianggapnya ideal.
Saat kita kembali membaca kisah Gordon di usia 29 tahun, kita diperlihatkan pada Gordon yang selalu berharap ada surat untuknya—bukan dari Rosemary; ia menantikan slip tanda bukti ada penerbit yang mau mencetak tulisannya. Akan tetapi, yang didapati oleh Gordon saat surat yang dimaksud tiba hanyalah slip penolakan.
Editor menyesal tidak dapat memuat tulisan terlampir.
Keputusan Gordon untuk mengejar kehidupan ideal telah mengorbankan stabilitas keuangan. Kehidupannya yang miskin dan harus berjuang memenuhi kebutuhan hidup dengan penghasilan kecil sangat kontras dengan keyakinan ideologisnya; hidup tanpa uang penuh dengan kesulitan dan kekurangan. Satu kejadian di tempat kerja memaksa Gordon untuk menghadapi kenyataan—penolakannya untuk terlibat di dunia uang tidak hanya mengasingkannya dari masyarakat, tetapi juga membuatnya tidak berdaya. Kesulitannya bukan hanya bersifat pribadi, melainkan cermin bahwa ada jurang yang menganga lebar antara kaum miskin dan marginal dengan masyarakat yang lebih menghargai uang dan kekayaan di atas martabat manusia.
Rosemary adalah pilar dukungan, kesabaran, dan kesetiaan. Kehadirannya memberikan rasa nyaman. Bahkan ketika sikap sombong dan keras kepala Gordon yang menolak konformitas terhadap norma-norma masyarakat membebani hubungan mereka, Rosemary tetap menjadi mercusuar yang membimbing Gordon dalam kegelapan. Dia percaya pada bakat dan potensi Gordon, bahkan ketika Gordon diliputi keraguan. Namun sikap pesimis Gordon yang terus-menerus muncul pada akhirnya membuat Rosemary kesulitan menjaga keseimbangan di dalam hubungan mereka. Kesombongan dirinya membuat Gordon juga menolak bantuan dari Rosemary. Percayalah, Rosemary selalu mendukung Gordon. Namun, ia juga semakin lelah dengan sikap keras kepala Gordon dan dampaknya terhadap hubungan mereka.
Titik balik terjadi ketika Rosemary hamil. Gordon dihadapkan pada pilihan antara membiarkan Rosemary melakukan aborsi (yang dianggapnya menjijikkan) atau menerima takdirnya sebagai warga kelas menengah yang taat; lengkap dengan rencana memiliki rumah, kereta bayi, dan aspidistra di jendela. Kalimat penutup, "Yah, sekali lagi sesuatu terjadi di keluarga Comstock." mengisyaratkan adanya penerimaan diri terhadap kehidupannya yang sekarang. Setelah bertahun-tahun keluarga Comstock mengalami kematian spiritual akibat tidak ada kelahiran setelah Gordon, tidak ada pencapaian, tidak ada kehidupan—akhirnya ada kehidupan baru yang segera lahir. Janin yang bergerak di dalam rahim Rosemary melambangkan harapan, keberlangsungan hidup, dan penerimaan terhadap siklus kehidupan manusia yang jauh lebih bermakna daripada puisi yang tak pernah selesai maupun sikap anti materialisme yang sia-sia. Aspidistra, yang dulunya simbol segala sesuatu yang dibenci Gordon, menjadi tanda re-integrasi dirinya ke dalam lingkungan sosial—sebuah kemenangan pahit yang disajikan Orwell tanpa sentimen berlebihan, namun dengan pemahaman mendalam di hati para pembaca Keep the Aspidistra Flying.
Dalam hal ini, Orwell menyajikan pandangan pesimis namun realististis; penolakan total terhadap sistem uang mustahil dilakukan oleh mereka yang ingin tetap menjadi bagian dari masyarakat. Kegagalan Gordon tidak digambarkan sebagai kegagalan moral, melainkan sebagai pengakuan atas kebenaran yang tak terhindarkan—uang bukan hanya soal kemewahan, melainkan tentang harkat dan martabat manusia, serta ketersediaan koneksi, dan tanggung jawab moral. Orwell menunjukkan bahwa harus ada keseimbangan antara kebutuhan duniawi dan spiritual, antara realitas dan idealisme.
Adalah lumrah untuk memperdebatkan apakah penerimaan diri yang terjadi pada Gordon merupakan kekalahan atau kemenangan. Orwell memberikan kebebasan pada kita dalam memberikan interpretasi. Ia juga menambahkan makna mendalam—bahwa aspidistra sanggup bertahan hidup di kondisi yang tidak bersahabat, di saat tanaman lain bisa mati ketika berhadapan dengan kondisi serupa; sebuah metafora untuk menolak punah, melainkan melakukan kompromi, di saat situasi mengharapkan kita untuk menyerah. Gordon memutuskan bahwa ia tidak dapat terus menempuh jalan yang merusak dirinya sendiri. Ia memahami bahwa melakukan kompromi tidak selalu berarti meninggalkan nilai integritas yang dianutnya. Harus ada fleksibilitas dan penyesuaian, yang memungkinkan dirinya untuk bertahan hidup dan tetap bisa berkembang.
***