KEEP THE ASPIDISTRA FLYING: Sebuah Sikap Dalam Melawan Pemujaan Terhadap Uang

Meskipun aku berbicara dengan bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi tak punya uang, aku menjadi serupa gong yang berbunyi atau simbal yang bergemerincing. Meskipun aku memiliki karunia nubuat, memahami segala misteri, dan mengerti segenap pengetahuan; meskipun aku memiliki semua keyakinan sehingga aku dapat melenyapkan gunung, tetapi tak punya uang, aku bukanlah apa-apa. Dan, meskipun aku memberikan semua barangku untuk memberi makan orang miskin dan memberikan tubuhku untuk dibakar, tetapi tidak punya uang, itu tak ada gunanya bagiku. Uang tahan menderita dan baik; uang tidak iri; uang tidak membanggakan dirinya sendiri, tidak sombong, tidak berperilaku tak pantas, tidak kikir, tidak mudah terpancing, tidak berpikiran jahat; tidak bersukacita karena kesalahan, tetapi bersukacita karena kebenaran; menanggung segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.... Dan kini tinggallah iman, harapan, dan uang—ketiganya; tetapi yang terbesar adalah uang." — I Korintus XIII (dengan adaptasi)

Keep the Aspidistra Flying (1936) merupakan novel ketiga George Orwell. Novel ini menggambarkan perjuangan batin Gordon Comstock; seorang penyair gagal berusia 29 tahun, yang secara sadar menyatakan pemberontakan terhadap sistem kapitalisme dan kebutuhan akan uang. Ia dengan sengaja meninggalkan kehidupan mapan dengan karir menjanjikan dan mengambil pekerjaan bergaji rendah di sebuah toko buku demi menjaga idealisme. Baginya, kreativitas sejati mustahil lahir dari sistem yang digerakkan oleh uang. Ia meromantisasi kemiskinan dan menganggapnya sebagai pencapaian moral paling superior, serta mengkritisi masyarakat Inggris pada tahun 1930-an yang dianggap terlalu menghamba pada uang.

Judul novel merujuk pada aspidistra—tanaman hias era Victoria yang menjadi simbol kehormatan kaum borjuis dan mewakili  hidup penuh kesuksesan.  Bagi masyarakat kelas menengah, aspidistra hadir mewakili nilai sosial yang mengakar pada kehidupan stabil, adab kesopanan, dan kenyamanan finansial. Sementara bagi Gordon, tanaman ini melambangkan  nilai-nilai kelas menengah yang dianggapnya menindas dan segala sesuatu yang ia benci; cukup untuk membuat Gordon merasakan ada kebencian yang intim antara aspidistra dan dia, hingga berkata, "Aku akan mengalahkanmu, bedebah!" sembari berbisik pada daun-daun berdebu itu. Pemberontakannya terhadap uang dan norma-norma sosial dapat pula dilihat sebagai kritik terhadap kehadiran aspidistra yang ada di mana-mana. Tanaman ini menjadi pengingat akan alasan ia menolak menjalani kehidupan yang sesuai ekspektasi sosial.

Novel ini tidak hanya merupakan kritik sosial terhadap kapitalisme,  melainkan juga eksplorasi mendalam terkait konflik psikologis pada diri seseorang yang terjebak di antara keinginan mencapai kebebasan dan tekanan sosial. Melalui karakter Gordon yang kompleks, Orwell bahkan berani mengungkap paradoks tragis; penolakan terhadap uang justru membuat seseorang akan semakin diperbudak olehnya. Gordon menemukan realita menyakitkan bahwa kita tidak mungkin terlepas dari sistem  yang digerakkan oleh uang, bahkan tidak mungkin untuk menolak keberadaan uang. Ia menyadari kemiskinan tidak membuatnya mendapatkan kebebasan berkreasi, melainkan justru menghancurkan kemampuannya menulis puisi dan berkarya—pun mengisolasi dirinya secara sosial, memaksanya merasa hina dan mengalami kecemasan terus-menerus, serta membuatnya merasakan kegetiran hidup dan berakhir selalu mengasihani diri sendiri.

Hubungannya dengan Rosemary, seorang wanita yang mencintainya meskipun ia miskin, menjadi semakin tegang karena penolakan Gordon untuk menjadi orang sukses. Rosemary menginginkan kehidupan yang stabil dan normal; pernikahan, rumah dengan aspidistra di jendela—sementara Gordon bersikeras pada idealismenya. Gordon mengakui dirinya mencintai Rosemary, namun tidak dapat disangkal, dinamika mereka diwarnai kenyataan pahit bahwa hubungan interpersonal manusia seringkali direduksi menjadi hubungan transaksional di mata masyarakat yang terobsesi dengan uang; tanpa uang, ia merasa tidak layak dicintai maupun diperhatikan. Kerap muncul di pikirannya, "Bagaimana kau bisa menikah dengan penghasilan hanya dua pound seminggu? Uang, uang, selalu uang! Setannya adalah bahwa di luar pernikahan tidak ada hubungan yang layak dengan seorang perempuan yang mungkin dilakukan." Dalam memaknai kekurangan dirinya akan uang, perasaan inferior tersebut merasuki Gordon dan meresap ke dalam kesadarannya—untuk kemudian memicu kebenciannya terhadap segala jenis materialisme. 

Persahabatannya dengan Ravelston, seorang editor majalah Antichrist yang kaya juga menjadi rumit karena ketidakmampuan Gordon untuk menerima bantuan finansial tanpa merasa harga dirinya terancam. Gordon memuja Ravelston dan tidak pernah merasa nyaman di hadapannya; berada di samping sosok Ravelston yang lebih tinggi dan lebih tampan, Gordon akan tampak lemah, gelisah, dan sangat lusuh. Ravelston tidak hanya memiliki pesona perilaku, tetapi juga semacam kesopanan mendasar dan sikap hidup anggun yang jarang ditemui Gordon di tempat laintentu saja karena Ravelston kaya, karena uang membeli semua kebajikan.

Gordon memikirkan Ravelston, sahabatnya yang kaya dan menawan. Dia editor majalah Antichrist yang sangat ia sukai, tetapi jarang bisa ditemui. Dia juga memikirkan Rosemary, gadisnya, yang mencintainyamemujanya, begitu katanyatetapi tidak pernah tidur dengannya.

Uang, sekali lagi; semua adalah uang. Semua hubungan manusia harus dibeli dengan uang. Jika kau tidak punya uang, lelaki tidak akan peduli kepadamu, perempuan tidak akan mencintaimu. Mereka tidak akan peduli kepadamu atau mencintaimu sedikit saja. Dan, betapa benarnya mereka! Karena, tanpa uang, kau tidak dapat dicintai meskipun bisa berbicara dengan bahasa manusia dan bahasa malaikat. Namun, jika aku tidak punya uang, aku tak akan dapat berbicara dengan bahasa manusia dan bahasa malaikat. (hlm. 15)

Di sini, Orwell mengajak kita menyaksikan bagaimana kemiskinan telah merusak Gordon. Ia bahkan kehilangan kemampuan untuk bersikap dermawan pada diri sendiri. Segala pikiran negatif yang meracau di dalam sanubari, tidak ubahnya sedang membenci diri sendiri.  

Selama bekerja di toko buku, Gordon mengamati  betapa picik dan vulgar masyarakat di sana, yang tercermin di dalam setiap iklan yang ia lihat, perilaku para pelanggan di toko buku, serta orang-orang yang berlalu-lalang. Ia tidak hanya menyaksikan wajah-wajah yang tersenyum penuh kepalsuan—bahkan berdasarkan hasil pengamatan tersebut, dan disertai interaksi dengan mereka, semakin memperkuat keyakinan Gordon bahwa kehidupan modern itu hampa dan ditakdirkan untuk hancur.

Tapi, apa yang ada di balik senyuman itu? Kehancuran, kekosongan, ramalan malapetaka. Tidak bisakah kau melihat, jika kau tahu cara melihat, bahwa di balik kepuasan diri yang licin itu, kesia-siaan perut gendut yang menggelitik itu, tidak ada apa pun selain kekosongan yang menakutkan, keputusasaan yang tersembunyi? Keinginan kuat untuk mati dari dunia modern. Pakta bunuh diri. Kepala terjebak di dalam oven gas di pondok-pondok yang sepi. Kondom dan obat perangsang. Gaung perang di masa depan. Pesawat musuh terbang di atas London; dengung baling-baling yang mengancam, guntur bom yang menghancurkan. Itu semua tertulis di wajah Rolan Butta. (hlm 18)

Kehidupan Gordon Comstock didominasi oleh hidup serba kekurangan; setiap aspek diwarnai oleh kemiskinan yang menurutnya sangat memalukan. Ia tinggal di kamar kos yang suram di Willowbed Road, ditambah dengan segala jenis kekecewaan yang menggerogoti pikirannya setiap kali ia pulang setelah bekerja. Kamarnya yang sederhana, diisi kertas-kertas berantakan dan aspidistra yang  sakit-sakitan di dalam sebuah pot kaca hijau, melambangkan stagnasi dan keruntuhan aspirasi. Ia membuat teh secara diam-diam, sama halnya dengan diam-diam merokok di kos, untuk menghindari larangan  nyonya pemilik kos. Rutinitas diam-diam membuat teh dan merokok tersebut—yang sepenuhnya disadari sebagai perilaku menentang larangan nyonya pemilik kos, berfungsi sebagai penegasan akan identitasnya yang menjadi samar, dan mengais sisa-sisa harapan di tengah keputusasaan.

Satu-satunya pelarian adalah puisi berjudul London Pleasuresyang sedang dikerjakannya, namun tak kunjung rampungkarena kemiskinannya justru menggerogoti  proses kreatif. Gordon menyatakan frustrasi terhadap segala ambisi dan idealisme yang tak terpenuhi, namun ia tetap berusaha menyelesaikan London Pleasures. Ia menyadari usaha tersebut pada dasarnya akan menjadi sia-sia, akan tetapi inilah bentuk perlawanan Gordon terhadap realita kehidupannya yang miskin dan  jiwanya yang terisolasi. 

London Pleasures, namanya. Itu adalah proyek besar dan ambisiussejenis hal yang hanya boleh dilakukan oleh orang-orang dengan waktu luang tak terbatas. Gordon tidak
memahami fakta itu ketika dia memulai menulis puisi tersebut. Namun, dia memahaminya sekarang. Betapa ringannya dia memulainya dua tahun lalu! Ketika dia telah membuang segalanya dan jatuh ke dalam lumpur kemiskinan, konsepsi puisi ini setidaknya menjadi bagian dari motifnya. Dia merasa begitu yakin bahwa dia setara dengan itu.

Tetapi, entah bagaimana, London Pleasures sudah salah hampir sejak awal. Gagasan itu terlalu besar untuknya, itulah kenyataannya. Puisi itu tidak pernah benar-benar berkembang, berantakan menjadi serangkaian fragmen. Dan dari pekerjaan selama dua tahun, hanya itu yang harus dia tunjukkan—hanya potongan-potongan, tidak lengkap, dan tidak mungkin untuk disatukan. Di setiap lembar kertas itu ada potongan baris puisi yang telah ditulis dan ditulis ulang dan ditulis ulang lagi selama beberapa bulan. Tidak ada lima ratus baris yang bisa dikatakan selesai. Dan, dia telah kehilangan kekuatan untuk menambahkannya lagi. Dia hanya bisa mengotak-atik bagian ini atau itu, meraba-raba di sana sini dalam kebingungannya. Itu bukan lagi sesuatu yang dia ciptakan, melainkan hanya mimpi buruk yang dia perjuangkan.

Selebihnya, dalam dua tahun penuh dia tidak menghasilkan apa-apa, kecuali segelintir puisi pendekmungkin semuanya hanya potongan. Jarang sekali dia bisa mencapai ketenangan pikiran di mana puisi atau prosa harus ditulis. Saat-saat dia "tidak bisa" bekerja menjadi semakin biasa. Dari semua jenis manusia, hanya seniman yang bisa mengatakan bahwa dia "tidak bisa" bekerja. (hlm. 35-36)

Latar belakang Gordon berakar pada sejarah keluarga Comstock; keluarga miskin dan membosankanserta kumuh, susah, dan kacau. Gordon menilai Comstock hanyalah keluarga yang ditandai kegagalan yang amat menyedihkan. Kehidupan makmur  leluhur Comstock di era Victoria terdengar seperti dongeng. Gordon mengkritisi keluarga Comstock sebagai keluarga yang benar-benar tidak memiliki daya hidup. Bagi Gordon, mereka semua ternyata jenis orang yang lesu, tidak punya keberanian, dan tidak sukses. 

Mustahil membayangkan salah satu dari mereka membuat prestasi apa pun di dunia atau menciptakan apa pun, atau menghancurkan apa pun, atau menjadi bahagia, atau sangat tidak bahagia, atau sepenuhnya hidup, atau bahkan memperolah penghasilan yang layak. Mereka hanya hanyut dalam suasana kegagalan setengah sopan. Mereka adalah salah satu keluarga yang menyebabkan depresi, begitu umum di kalangan kelas menengah-menengah, di mana tidak pernah terjadi apa-apa. (hlm. 45)

Selama menyelami masa kecil dan pendidikan Gordon, Orwell menggambarkan bagaimana keluarga Comstock yang miskin dan penuh kesombongan membentuk pandangan Gordon terhadap dunianya. Gordon dikirim ke sekolah miskin yang sok berkelas, sementara Juliayang lima tahun lebih tuanyaris tidak mengenyam pendidikan sama sekali. 

Gordon adalah "anak laki-laki" dan Julia adalah "anak perempuan" dan tampaknya wajar bagi semua orang bahwa "anak perempuan" harus dikorbankan untuk "anak laki-laki". Terlebih lagi, sudah diputuskan sejak awal dalam keluarga bahwa Gordon "pintar". (hlm. 48)

Bagi Gordon,  mengenyam pendidikan di sekolah tersebut merupakan sebuah neraka. Ia segera mengalami penghinaan dari teman-teman sekelas yang lebih kaya setelah mereka mengetahui kemiskinannya. Seperti yang dinarasikan oleh Orwell, "Bahkan dua puluh tahun kemudian, kenangan akan sekolah itu masih membuat Gordon bergidik. Efek pertama dari semua ini adalah memberinya rasa hormat pada uang."

Mungkin kekejaman terbesar yang dapat ditimbulkan kepada seorang anak adalah dengan mengirimkannya ke sekolah di antara anak-anak yang lebih kaya daripada dirinya. Seorang anak yang sadar akan kemiskinannya akan mengalami semacam penderitaan yang angkuh yang hampir tidak bisa dibayangkan oleh orang dewasa. (hlm. 48)

Segala pengalaman serta pengamatan mendalam yang dipelajari Gordon selama di sekolah telah menumbuhkan keinginannya akan kekayaan sekaligus kebencian terhadapnya. Opini revolusioner yang menjangkiti Inggris pada saat itu berhasil memicu semangat pemberontakannya, dan ia mulai memandang kapitalisme seperti bentuk dogma agama, yang mengangkat uang menjadi prinsip Ilahi. 

Di masa ini pula Gordon menemukan The Ragged Trousered Philanthropist dan membaca di dalamnya kisah tentang tukang kayu kelaparan yang menggadaikan segala miliknya, kecuali aspidistra.

Aspidistra menjadi semacam simbol bagi Gordon setelah itu. Aspidistra, bunga Inggris! Seharusnya tanaman itu ada di lambang negara kita, bukan singa dan unicorn. Tidak akan ada revolusi di Inggris selama masih ada aspidistra di jendela. (hlm. 51)

Saat Gordon berusia 17 tahun, ayahnya meninggal dunia. Di pikiran Gordon saat itu, situasi ideal yang seharusnya dilakukan  keluarganya adalah mengeluarkan Gordon dari sekolah, mencarikannya pekerjaan, dan membiarkan Julia memiliki dua ratus pound untuk mendirikan kedai teh sendiri. Alih-alih demikian, baik Julia maupun ibunya tidak mau Gordon meningggalkan sekolah sebelum usia resmi 18 tahun. Namun, Gordon membiarkan mereka menggunakan dua ratus pound tersebut, atau lebih dari setengahnya, supaya Gordon menyelesaikan pendidikannya. Gordon telah menyatakan perang terhadap uang, tetapi itu tidak mencegahnya untuk menjadi sangat egois.

Tentu saja dia takut hal ini akan berlaku. Anak laki-laki mana yang tidak takut? Menekan pena di kantor yang kotor—ya Tuhan! (hlm. 53)

Setelah Gordon menyelesaikan pendidikan, ia ditawarkan pekerjaan bagus di departemen akuntansi sebuah perusahaan melalui koneksi seorang paman.  Hanya saja jiwa Gordon memberontak dan menolak untuk mencoba pekerjaan tersebut. Lalu kesehatan ibunya semakin menurun dan menjadikan Gordon terpaksa mengambil pekerjaan tersebut. Kinerja Gordon tidak benar-benar buruk dan bisa dikatakan sepadan dengan upah yang diterima. Penghinaan total yang ditujukan untuk pekerjaannya justru membuat Gordon bisa bertahan dengan kehidupan kantor yang baginya tidak berarti karena ia tidak pernah menganggap itu sebagai pekerjaan permanen. Gordon keluar dari pekerjaannya tepat empat bulan setelah ibunya meninggal, ketika Gordon berusia 24 tahun. Tentu saja ada pertengkaran di keluarga Comstock yang tersisa; tidak ada yang bisa memahami alasan Gordon mengambil keputusan seperti itu. 

"Apa yang akan kau jalani? Apa yang akan kau lakukan?" adalah pertanyaan yang diajukan oleh keluarga Comstock dan Gordon menolak untuk memikirkannya secara serius. Di dalam keyakinannya, Gordon masih memendam gagasan bahwa dia bisa mencari nafkah dengan menulis. Pada saat ini dia sudah mengenal Ravelston, yang membantu menerbitkan puisi-puisinya, serta berhasil membuat Gordon sesekali mengulas buku. Tetap saja, bukan keinginan menulis yang menjadi motif Gordon sebenarnya, melainkan keluar dari dunia uangdan ia gagal.

Dia memiliki perasaan bahwa jika kau benar-benar membenci uang, kau dapat terus hidup di udara. Dia lupa bahwa burung-burung di udara tidak membayar sewa kamar. Penyair yang kelaparan di loteng—tetapi entah bagaimana, baginya kelaparan tidak membuat tidak nyaman—itu adalah visinya tentang dirinya sendiri. (hlm. 58-59)

Efek pertama dari kemiskinan adalah membunuh pikiran. Dia memahami, seolah-olah itu penemuan baru, bahwa kau tidak bisa melarikan diri dari uang dengan tidak memiliki uang. Sebaliknya, kau budak uang yang putus asa sampai kau memiliki cukup uang untuk hidup—sebuah "kompetensi", seperti ungkapan kelas menengah yang kejam. (hlm. 59)

Selama berbulan-bulan kemudian, Gordon menggantungkan hidup pada Julia hingga sen terakhir dari tabungannya yang tak seberapa itu habis. Gordon merasa itu menjijikkan. Dia telah meninggalkan ambisi, berperang melawan uang, dan semua itu hanya membuat dia merepotkan saudara perempuannya. Ironisnya, Julia lebih merasa sedih karena kegagalan Gordon daripada akibat tabungannya yang hilang. Julia memiliki harapan besar kepada Gordon dan menganggap hanya Gordon lah satu-satunya di keluarga Comstock yang memiliki keinginan untuk berhasil, serta percaya suatu hari Gordon akan mengembalikan kemakmuran keluarga.

Setelah berjuang mencari pekerjaan, Gordon mendapatkan posisi di departemen akuntansi perusahaan periklanan, dan di situlah Gordon pertama kali berkenalan dengan Rosemaryseorang gadis yang terasa jauh, mungil, misterius, dengan gerakan cepat, sangat menarik tetapi agak menakutkan. Di tempat yang sama, Gordon mempelajari kemunafikan serta kenaifan orang-orang di perusahaan tersebut terhadap pemujaan buta ke dewa uang. Seperti di pekerjaan sebelumnya, dia melakukan pekerjaan dengan baik dan rekan-rekan kerja memandang rendah dirinya. Tidak ada yang berubah dalam pikiran dan batin Gordon; dia masih membenci dan menolak kode uangserta masih berencana untuk melarikan diri. Sementara di sisi lain, ada seorang direktur pelaksana yang menyadari potensi Gordon dan mempromosikan dirinya untuk menjadi sekretaris bagi kepala copywriter di perusahaan mereka. Hampir sejak awal Gordon menunjukkan bakat luar biasa untuk melakukan copywriting iklan. Dia bisa membuat iklan seolah-olah dia dilahirkan untuk itu.

Frasa jernih yang melekat dalam ingatan, paragraf ringkas dan rapi yang mengemas dunia kebohongan dalam seratus kata—kebohongan itu seolah-olah datang kepadanya hampir tanpa dicari. Dia selalu memiliki bakat untuk kata-kata, tetapi ini adalah kali pertama dia berhasil menggunakannya. (hlm. 64)

Gordon menyaksikan perkembangannya dengan terkejut, lalu geli, dan akhirnya dengan semacam kengerian. Batinnya menjerit, "Inilah yang dia datangi! Menulis kebohongan untuk menggelitik uang dari orang bodoh!". Semakin gajinya dinaikkan, semakin Gordon ketakutan; uang telah menjeratnya dan sedikit lagi akan membuatnya terjebak seumur hidup. Pilihan Gordon saat itu adalah kembali melarikan diri dan Ravelstonyang sangat memahami Gordon, membantunya mendapatkan pekerjaan di toko buku. Untuk beberapa saatsangat sebentardia memiliki ilusi bahwa dia benar-benar berhasil keluar dari dunia uang. Karir Gordon sebagai penyair gagal dimulai di saat bersamaan. Buku puisinya, Mice,  akan dicetak oleh penerbit ketujuh yang dikirimi naskah. Gordon tidak tahu bahwa di balik penerbitan buku puisinya ada campur tangan Ravelston yang merupakan teman pribadi si pemilik penerbitan.

Di usia 27 tahun, Gordon meratapi pendapatannya yang hanya dua pound seminggu dalam pekerjaan orang bodoh dan berjuang dengan sebuah buku gagal yang tidak pernah berkembang lebih jauhsebagai satu-satunya objek yang dapat membuktikan keberadaannya; meskipun ia berhasil masuk ke dalam dunia yang pernah dianggapnya ideal.

Saat kita kembali membaca kisah Gordon di usia 29 tahun, kita diperlihatkan pada Gordon yang selalu berharap ada surat untuknyabukan dari Rosemary; ia menantikan slip tanda bukti ada penerbit yang mau mencetak tulisannya. Akan tetapi, yang didapati oleh Gordon saat surat yang dimaksud tiba hanyalah slip penolakan.

Editor menyesal tidak dapat memuat tulisan terlampir.

Keputusan Gordon untuk mengejar kehidupan ideal telah mengorbankan stabilitas keuangan. Kehidupannya yang miskin dan harus berjuang memenuhi kebutuhan hidup dengan penghasilan kecil sangat kontras dengan keyakinan ideologisnya; hidup tanpa uang penuh dengan kesulitan dan kekurangan. Satu kejadian di tempat kerja  memaksa Gordon untuk menghadapi kenyataanpenolakannya untuk terlibat di dunia uang tidak hanya mengasingkannya dari masyarakat, tetapi juga membuatnya tidak berdaya. Kesulitannya bukan hanya bersifat pribadi, melainkan cermin bahwa ada jurang yang menganga lebar antara kaum miskin dan marginal dengan masyarakat yang lebih menghargai uang dan kekayaan di atas martabat manusia.

Rosemary adalah pilar dukungan, kesabaran, dan kesetiaan. Kehadirannya  memberikan rasa  nyaman. Bahkan ketika sikap sombong dan keras kepala Gordon yang menolak konformitas terhadap norma-norma masyarakat membebani hubungan mereka, Rosemary tetap menjadi mercusuar yang membimbing Gordon dalam kegelapan. Dia percaya pada bakat dan potensi Gordon, bahkan ketika Gordon diliputi keraguan. Namun sikap pesimis Gordon yang terus-menerus muncul pada akhirnya membuat Rosemary kesulitan menjaga keseimbangan di dalam hubungan mereka. Kesombongan dirinya membuat Gordon juga menolak bantuan dari Rosemary. Percayalah, Rosemary selalu mendukung Gordon. Namun, ia juga semakin lelah dengan sikap keras kepala Gordon dan dampaknya terhadap hubungan mereka.

Titik balik terjadi ketika Rosemary hamil. Gordon dihadapkan pada pilihan antara membiarkan Rosemary melakukan aborsi (yang dianggapnya menjijikkan) atau  menerima takdirnya sebagai warga kelas menengah yang taat; lengkap dengan rencana memiliki rumah, kereta bayi, dan aspidistra di jendela. Kalimat penutup, "Yah, sekali lagi sesuatu terjadi di keluarga Comstock." mengisyaratkan adanya penerimaan diri terhadap kehidupannya yang sekarang. Setelah bertahun-tahun keluarga Comstock mengalami kematian spiritual akibat tidak ada kelahiran setelah Gordon, tidak ada pencapaian, tidak ada kehidupan—akhirnya ada kehidupan baru yang segera lahir. Janin yang bergerak  di dalam rahim Rosemary melambangkan harapan,  keberlangsungan hidup, dan penerimaan terhadap siklus kehidupan manusia yang jauh lebih bermakna daripada puisi yang tak pernah selesai maupun sikap anti materialisme yang sia-sia. Aspidistra, yang dulunya simbol segala sesuatu yang dibenci Gordon, menjadi tanda re-integrasi dirinya ke dalam lingkungan sosial—sebuah kemenangan pahit yang disajikan Orwell tanpa sentimen berlebihan, namun dengan pemahaman mendalam di hati para pembaca Keep the Aspidistra Flying.

Dalam hal ini, Orwell menyajikan pandangan pesimis namun realististis; penolakan total terhadap sistem uang mustahil dilakukan oleh mereka yang ingin tetap menjadi bagian dari masyarakat. Kegagalan Gordon tidak digambarkan sebagai kegagalan moral, melainkan sebagai pengakuan atas kebenaran yang tak terhindarkan—uang bukan hanya soal kemewahan, melainkan tentang harkat dan martabat manusia, serta ketersediaan koneksi, dan tanggung jawab moral. Orwell menunjukkan bahwa harus ada keseimbangan antara kebutuhan duniawi dan spiritual, antara realitas dan idealisme.

Adalah lumrah untuk memperdebatkan apakah penerimaan diri yang terjadi pada Gordon merupakan kekalahan atau kemenangan. Orwell memberikan kebebasan pada kita dalam memberikan interpretasi. Ia juga menambahkan makna mendalam—bahwa aspidistra sanggup bertahan hidup di kondisi yang tidak bersahabat, di saat tanaman lain bisa mati ketika berhadapan dengan kondisi serupa; sebuah metafora untuk menolak punah, melainkan melakukan kompromi, di saat situasi mengharapkan kita untuk menyerah. Gordon memutuskan bahwa ia tidak dapat terus menempuh jalan yang merusak dirinya sendiri. Ia memahami bahwa melakukan kompromi tidak selalu berarti meninggalkan nilai integritas yang dianutnya. Harus ada fleksibilitas dan penyesuaian, yang memungkinkan dirinya untuk bertahan hidup dan tetap bisa berkembang.

***

Diunggah di Instagram @ammania.blog


Novel ini ditulis pada masa Depresi Besar, ketika pengangguran massal dan ketidaksetaraan ekonomi mencapai puncaknya di Inggris. Kelas menengah-bawah seperti Gordon terjepit antara kemiskinan terstruktur yang menimpa kaum proletar dengan status sosial yang rapuh. Orwell sendiri pernah mengalami kemiskinan ekstrem saat hidup di Paris dan London, dan ia menulis novel ini berdasarkan pengalaman pribadinya bekerja di toko buku dan menolak warisan keluarganya demi hidup sebagai penulis miskin.

Keep the Aspidistra Flying melalui proses penerbitan yang rumit karena pihak penerbit khawatir terkena tuntutan pencemaran nama baik. Banyak slogan iklan dan nama produk fiktif yang terlalu mirip dengan produk asli di dunia nyata, sehingga Orwell dipaksa melakukan beberapa kali revisi—dan membuatnya mengubah naskah asli serta mengaburkan pesan moral. Edisi yang disunting oleh Peter Davison kemudian memulihkan banyak bagian yang diubah paksa pada edisi pertama, dan membawa pembaca menjadi lebih dekat pada visi yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Orwell. Meskipun Orwell cenderung meremehkan novel ini, namun Keep the Aspidistra Flying dianggap sebagai cikal bakal kemampuan analisis politik yang lebih matang—yang terwujud di dalam dua novel Orwell yang mencapai relevansi hingga saat ini, yaitu Animal Farm dan Nineteen Eighty-Four.

Novel Keep the Aspidistra Flying diadaptasi menjadi film berjudul A Merry War pada tahun 1997. Richard E. Grant berperan sebagai Gordon Comstock. Ada sedikit perbedaan dalam menggambarkan akhir cerita, namun tetap mempertahankan garis besar penerimaan diri yang dialami oleh Gordon—dengan aspidistra tetap menjadi simbol utama yang ditekankan di sepanjang cerita. Pembahasan mengenai film A Merry War akan dibahas di lain kesempatan!


***

Ulasan ini diikutsertakan dalam Book Review Challenge yang diadakan oleh Bentang Pustaka.




***

Keep the Aspidistra Flying
Diterjemahkan dari Keep the Aspidistra Flying
Karya George Orwell
Penerjemah Anton Kurnia
ISBN 978-602-291-855-4 
Cetakan Pertama, Oktober 2021; 304 hlm
Diterbitkan oleh Penerbit Bentang (PT Bentang Pustaka)